Kamis, 23 Desember 2010
Digital Gangsters, Ancaman atau Peluang?
remaja dengan anugerah wajah malaikat.
Mengenal Digital Gangsters
Digital Gangsters (DG) disinyalir sebagai komunitas yang melakukan ‘kenakalan’ di dunia digital hingga bisa mendapatkan uang secara mudah melalui internet dengan cara kurang etis atau bahkan tidak etis, namun susah untuk dijerat oleh undang-undang. Apakah merugikan atau melanggar privasi orang lain? Tentu saja! Siapa yang rela datanya dicuri atau account-nya di obok-obok oleh orang lain? Dalam sepak terjangnya, digital gangsters tidak seperti virus flu atau virus internet yang tanpa pandang bulu menyerang Netizen (orang yang terlibat aktif dalam komunitas online). Namun, komunitas ini sangat berbahaya bagi kalangan institusi dan selebriti, baik itu politisi maupun kaum birokrat.
Siapa saja yang termasuk dalam kategori DG? Ada yang sembunyi-sembunyi, namun ada juga yang mengaku blak-blakan, bahkan memiliki forum resmi dan mempunyai situs sendiri, antara lain www.digitalgangsters.com. Dimana para 'hacker' kelas dunia sering 'nongkrong' disana dan memamerkan kehebatan mereka dalam mencuri data yang kemudian memamerkannya di situs tersebut.
Selanjutnya, siapa tak kenal Wikileaks? salah satu situs yang dioperasikan oleh organisasi internasional yang bermarkas di Swedia. WikiLeaks menjadi perhatian dunia, bukan karena menyajikan berita yang baru dan aktual, namun karena mengundang kontroversi. Seperti dilansir Wikipedia, pada bulan Juli 2010, situs ini menyajikan pembocoran dokumen Perang Afganistan. Selanjutnya, pada Oktober 2010, hampir 400.000 dokumen Perang Irak dibocorkan oleh situs ini. Pada November 2010, WikiLeaks mulai merilis kabel diplomatik Amerika Serikat. Selain itu, situs ini juga mengungkapkan dokumen aktivitas militer AS, tentara Pakistan, kepemimpinan politik Afghanistan, dan hubungan dengan pemimpin al Qaeda dan Taliban. Pengungkapan itu terdiri dari 91.731 dokumen, meliputi periode antara Januari 2004 dan Desember 2009. Sebelum dirilis ke publik, Wikileaks telah memberikan akses kepada The Guardian, The New York Times, dan Der Spiegel. Kebanyakan dokumen ini dikelompokan sebagai dokumen "rahasia". Sehingga, kebocoran dokumen rahasia ini dianggap sebagai salah satu yang terbesar dalam
sejarah militer Amerika Serikat.
Wow betapa dasyatnya! Apakah Wikileaks masuk dalam katagori digital gangsters? Bagi institusi yang merasa dirugikan bisa jadi situs ini dituding sebagai DG. Namun bagi netter pada umumnya, WikiLeaks dianggap sebagai situs yang menyiarkan keterbukaan informasi terhadap publik. Memaparkan fakta yang bisa menjadi pencerahan di dunia informasi.
Bagaimana dengan DG di Indonesia? Walaupun tidak terang-terangan, profesi ini kini berkembang dan diminati sebagai pekerjaan baik part-time maupun full-time atas nama 'kenakalan' dengan bonus menghasilkan uang di dunia maya. Sebagai contoh, situs multilevel marketing yang tidak bertanggung jawab, seperti arisan piramid dengan iming-iming hadiah mobil. Mereka meminta kita menyetor sejumlah uang baik lewat ATM atau internet banking dan tidak jelas siapa yang dapat, setelah sekian lama tiba-tiba situsnya raib begitu saja. Contoh lain, pernahkah anda mendapatkan pesan di inbox Facebook yang menawarkan jasa bisa meng-hack akun Facebook seseorang dalam jangka waktu tertentu, dengan meminta imbalan tertentu. Dan uangnya akan diambil jika sudah terbukti bisa melaksanakan permintaan klien untuk membajak akun FB orang tertentu. Para crackers (orang yang membobol sistem keamanan jaringan komputer, baik untuk uang atau sekedar memenuhi tantangan namun cenderung merugikan) ini membentuk group atau ‘geng’ tersendiri , tergabung dalam satu komunitas dan menjadi digital gangsters bagi netters lainnya.
Tentu modus ‘kenakalan’ mereka bisa beraneka ragam.
Minat anak muda untuk menjadi crackers atau hackers ternyata tidak bisa dianggap enteng, simak saja peserta seminar yang selalu membludak ketika salah satu majalah Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) Nasional menggelar acara tahunan Hackers Day, bahkan panitia harus menolak banyak peserta dikarenakan keterbatasan tempat. Hal itu terjadi tidak hanya di ibukota saja, melainkan juga di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Medan dan Surabaya.
Muda dan Berbahaya
Muda dan berbahaya adalah kombinasi yang mematikan. Betapa tidak, karena kaum muda seringkali menjadi agen perubahan, mereka lebih adaptif dan mudah menyerap berbagai hal baru dan menjadikannya sebagai sebuah tren. Kreatifitas dan energi yang besar adalah aset terbaik bagi kaum muda untuk mampu melakukan hal-hal besar dengan melahirkan tren-tren di dunia digital, dimana generasi analog harus tertatih-tatih mengikutinya.
Kaum muda yang tumbuh di jaman ini, memang terlahir sebagai warganegara digital yang cepat berinteraksi di dunia digital. Berbeda dengan generasi analog yang perlu ‘sertifikat kemampuan digital’ untuk dapat bermigrasi. Kecerdasan generasi digital jika tidak dibekali dengan etika bisa berefek negatif. Ingat bagaimana Mark Zuckerberg dalam film Social Networks? Sang penggagas Facebook ini melakukan pencurian ID teman-temannya dari database website Harvard, hanya untuk membuat ‘smash face’, yakni situs lelucon ala Zuckerberg, dengan membandingkan dua orang disertai pertanyaan konyol untuk mendapat pendapat dari teman-temannya dan disebar ke 22.000 Netters.
Bagi Zuckerberg dan teman-temannya, hal ini tentu merupakan hiburan dari ‘kenakalan’ di dunia maya, namun bagaimana dengan orang yang dijadikan bulan-bulanan dalam permainan tersebut? Bisa dipastikan merasa terganggu, tersinggung bahkan marah. Dan ketika dikenakan sangsi dari Harvard, tempatnya menuntut ilmu, karena membobol keamanan website Harvard, Zuckerberg justru berpendapat sebaliknya, yakni seharusnya dia memperoleh imbalan karena dapat menemukan celah untuk masuk dan mengakses database Harvard University.
Di Indonesia, beberapa crackers mencari uang dengan cara yang sama, sebagai contoh hacker muda dan penulis buku mengenai per-hacker-an, ‘Thor’, pernah membobol database salah satu Universitas Swasta di Jakarta, dan kemudian menginformasikan kepada pihak yang dibobol bahwa dia sanggup masuk ke private-database mereka. Selanjutnya hacker tersebut justru mendapatkan imbalan dari institusi yang dibobol setelah memaparkan kelemahan-kelemahan sekuritas sistem komputer dan jaringan mereka.
Kegiatan bobol-membobol ini mungkin hanya dianggap sebagai ‘kenakalan’ ataupun menjajal ‘kedigdayaan’ para crackers. sebelum mereka menciptakan kreatifitas yang bisa meraup rupiah atau menjadi bilyuner seperti sang pendiri Facebook Mark Zuckerberg. Ada baiknya kita tanya pada pendiri Kaskus, situs tempat nongrong netters yang cukup besar dan disegani di Indonesia, apakah pernah melakukan hal serupa? Menjadi gangsters di dunia digital?
Efek Konvergensi dan Koneksi Broadband
Tidak bisa dimungkiri, perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang bermuara ke konvergensi memiliki andil kuat dalam perkembangan DG di Indonesia. Konvergensi teknologi telekomunikasi yang ditandai dengan tergabungnya beberapa alat telekomunikasi bahkan broadcast dalam satu perangkat sehingga lebih efisien, nyaman dan mempunyai manfaat bagi penggunanya, diyakini sebagai cikal bakal perubahan gaya hidup digital secara besar-besaran. Ditunjang oleh kemudahan layanan koneksi broadband yang nyambung terus, yang digelontorkan oleh operator-operator Telekomunikasi Nasional, kemudahan koneksi ini mengakibatkan kreatifitas para netters menjadi tak terbendung. Mereka bisa menjelma menjadi citizen journalis, melakukan bisnis, jual-beli, ber-sosial network, membangun blog-blog kreatif, hingga ’kenakalan’ sebagian netter. Membobol sistem keamanan suatu institusi ataupun ID para selebriti, yang kemudian berkelompok, menimbulkan huru-hara di dunia maya, hingga menjadi gangsters.
Kita pasti sepakat, memang tak diragukan lagi manfaat yang diperoleh masyarakat dari teknologi konvergensi . Teknologi ini telah menumbuhkan peluang besar bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan pribadi yang berujung pada peningkatan kesejahteraan dalam satu tatanan masyarakat global.
Konvergensi TIK telah memberikan banyak manfaat dan peluang, namun bak dua sisi mata pisau, teknologi ini juga bisa menimbulkan ancaman tersendiri, yakni dengan adanya kejahatan-kajahatan di dunia maya. Bullying di dunia maya pun sekarang marak terjadi, saling memaki dan melakukan kampanye negative terhadap seseorang melalui situs jejaring sosial hingga sang korban merasa ‘tersakiti’ bahkan ada yang bunuh diri. Bagaimana bisa? Dahulu, orang tua kita mampu memberikan trik-trik kepada anaknya untuk bertahan ataupun membela diri dalam sebuah ‘perkelahian’ berdasarkan pengalaman mereka waktu muda, namun sekarang yang terjadi mereka tidak punya kiat-kiat yang dapat direferensikan untuk membeladiri dari bullying di dunia digital. Sementara, para netters muda ini tidak punya guru yang memberikan bekal edukasi cukup untuk berkiprah di dunia digital. Mungkin mereka tidak bertujuan menyakiti sesamanya, bahkan beranggapan tidak ada yang salah dengan memperoleh uang secara gampang dari internet, bukankah hal tersebut bisa menyejahterakan financial mereka?
Seringkali institusi-institusi yang concern terhadap keamanan web ataupun sistemnya mengundang para crackers untuk membobol sistem sekuritas mereka. Dan yang berhasil membobol akan diberi imbalan setelah memaparkan kelemahan sistem jaringan komputer mereka. Sehingga sistem keamanan jaringan computer institusi tersebut bisa semakin rigid dan aman.
Barangkali informasi mengenai digital gangsters diatas terkesan tabu untuk dipaparkan dalam forum akademik dan dianggap sebagai kontra manfaat bagi teknologi konvergensi, tetapi apakah kaum muda sepakat dengan hal tersebut? Sebagian dari mereka beranggapan sah-sah saja dan bahkan bangga tergabung dalam komunitas DG.
Perlu peran pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk melakukan dialog mengenai etika di dunia digital, agar tidak memiliki konotasi ambigu mengenai digital gangsters. Sudah selayaknya kita bahu membahu guna memberikan edukasi tanpa henti kepada generasi muda yang notabene adalah warganegara dari Digital Nation, yang juga sang penerus bangsa untuk menjadi warga berperilaku santun dan mempunyai standar etika tinggi di dunia digital.
Senin, 23 November 2009
Menari di atas Kwadran Ruang dan Waktu
the big sixth @XL AWARDS 2009
“Baik.. Dua ekor ayam kampung.. Dikirim kemana njjih...?” ujar seorang ibu sambil mengempit telepon di antara kepala dengan bahunya. Tangan kirinya menggendong bocah usia dua tahunan. Sementara tangan kanannya menulis alamat sang pemesan. Semua anggota tubuhnya aktif. Bergerak serentak namun harmonis bak sedang menari.
Pemandangan alam pedesaan yang indah, ditingkah dengan “tarian” kesibukan sang ibu itu begitu mengesan di benak saya. Terjadinya sudah hampir duapuluh tahun silam, saat saya makan siang di sebuah warung ayam goreng, usai pulang kuliah. Tanpa bermaksud memuji berlebihan (hanya karena saya juga sesama perempuan), ditengah keterbatasannya, perempuan memang manusia multitasking. Guna menunjang bisnisnya, sang ibu pengusaha kecil tersebut telah berkarib dengan teknologi telekomunikasi untuk menjalin komunikasi yang lebih efisien dengan pelanggannya. Waktu itu, alat telekomunikasi yang digunakan masih berupa fixed phone yang lazim disebut telepon.
Lewat dua dekade, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berkembang demikian pesat hingga menuju ke muara konvergensi. Konvergensi TIK, dalam makna sederhana yang saya pahami, adalah tergabungnya beberapa alat telekomunikasi bahkan broadcast dalam satu perangkat sehingga lebih efisien, nyaman dan mempunyai manfaat bagi penggunanya. Tentu ada arti yang lebih ilmiah bagi istilah konvergensi ini sebagaimana dirumuskan oleh para pakar. Salah satunya, Malaysian Communication and Multimedia Commission (MCMC), merumuskan konvergensi sebagai “Progressive integration of value chain of the information and content industries into a single market and value chain based on the use of distributed digital technology, (MCMC 2001)”.
Sebagai pengguna sekaligus penikmat, saya tidak akan membahas detail mengenai teknologi konvergensi dari sudut pandang analisa teknologinya. Selain bukan kapasitas saya, kapabilitas diri pun patut diragukan..:).
Instrumen Pengiring Tarian
Perkembangan TIK yang teraplikasi dalam satu perangkat atau bahasa kerennya gadget yang mudah ditenteng, memang bak instrumen sakti bagi para pekerja kreatif dan perempuan pebisnis yang memiliki mobilitas tinggi, guna memulai “tarian”-nya.
Sementara, para operator penyedia jaringan berperan sebagai penabuh instrumen tersebut.
Saat ini, para operator berlomba memberikan layanan jaringan internet maupun telepon yang relatif terjangkau bagi masyarakat. Dengan infrastruktur dari jaringan kabel, fiber optic, hingga satelite. Ketika diikuti dengan diluncurkan USB modem seluler ke pasar, maka slogan “kapanpun, di manapun, siapapun” milik salah satu merk minuman multinasional sah terimplementasi. Dengan USB modem yang dicolokkan ke laptop, selanjutnya bisa on line kapanpun, di manapun dan bisa dilakukan oleh siapapun.
Pilihan lain, hanya dengan bermodal ponsel yang telah dilengkapi teknologi 3G, kita bisa tersambung jaringan internet dengan cara berlangganan baik harian maupun bulanan, yang sekarang marak ditawarkan oleh para operator penyedia jaringan.
Bagi yang cekak dana, jika ponselnya 3G dan dilengkapi dengan WiFi, tak perlu mengeluarkan uang untuk berlangganan, manfaatkan saja fasilitas-fasilitas hot spot yang sekarang banyak disediakan sebagai tambahan kenyamanan fasilitas publik. Jika koneksinya byar-pet, harap maklum dan doakan saja semoga yang berkepentingan segera memperbaiki dan meningkatkan fasilitas jaringannya. Namanya juga gratis...:).
Kemudahan jaringan internet dan gadget seri “konvergensi” tersebut menjadi instrumen penting yang akan mengiringi lompatan-lompatan indah perempuan Indonesia, dalam tarian di atas kwadran ruang dan waktu.
Tarian di Atas Kwadran
Instrumen telah siap, didukung dengan kemampuan multitasking yang sudah menjadi generic skill kaum hawa maka akan tercipta efisiensi yang maksimal. Kreativitas menjadi tidak lagi terbelenggu, melainkan dapat tereksplorasi bebas melintasi kwadran ruang dan waktu.
Merujuk kejadian 20 tahun silam di warung ayam goreng itu, menurut diagram The Basic Matrix, yang menganalisa mengenai kwadran ruang dan waktu, maka sang ibu tersebut telah melakukan peran multitaskingnya dan melakukan loncatan melintasi kwadran ruang dan waktu dengan bantuan teknologi telekomunikasi telepon seperti tepapar berikut ini:

Dalam waktu yang bersamaan sang ibu tersebut bisa melompat dari tugas merawat anak (same time same place) , kemudian meluncur ke same time different place, ketika menjalin komunikasi dengan pelanggannya melalui telepon. Pada masa itu, untuk melakukan asynchronous communication dengan posisi different place different time, belum ada sarana teknologinya selain dengan cara manual yakni surat.
Memasuki era konvergensi, diagram basic di atas mengalami perkembangan yang luar biasa. Komunikasi bisa dilakukan secara mobile, melalui handphone (cellphone), video conference, share view, files, bahkan mengedit files secara bersamaan. Dari teori time/space matrix for non-computer technologies (Dix et al 1998) menuju ke Computer Supported Cooperatif Work, seperti terpapar berikut ini (CSCW). Apa yang bisa dilakukan kaum hawa dalam kwadran di atas? Mari kita cermati.

Teringat oleh istilah It takes two to tango, maka berpasangan dengan TIK, perempuan bisa menari dari kwadran yang satu ke kwadran yang lain dalam satu kurun waktu sesuai dengan kebutuhan. Konvergensi TIK akan semakin menyempurnakan keunggulan generik multitasking yang sudah mereka miliki.
Contoh soal, ketika konsekuensi kodrati dan tanggung jawab sebagai ibu mengharuskan kaum perempuan untuk merawat buah hati yang masih balita, bekerja dari rumah menjadi pilihan yang rasional. Seorang penulis perempuan yang tak luput dari konsekuensi tersebut, bisa menyelesaikan tugasnya tanpa harus meninggalkan sang buah hati, artikel/tulisan dapat dikirim melalui e-mail. Dalam tempo yang sangat singkat, dia dapat menari dan melompat dari kwadran same time-same place, ketika menjaga anak. Kemudian meluncur ke kwadran different time different place, saat mengirim e-mail hasil pekerjaan, yang mungkin akan dibuka oleh koleganya dalam waktu yang berbeda.
Menjalankan bisnis sambil menjemput anak pulang sekolah, bukan masalah. Mari kita simak betapa dasyatnya pekerjaan yang bisa dilakukan di mobil sembari menunggu anak pulang sekolah dalam kwadran ruang dan waktu berikut ini:
Rakyat Alor, Nusa Tenggara Timur, memiliki sebuah tarian bernama dodakado yang menggambarkan keceriaan muda-mudi pada saat acara-acara pesta adat. Tarian ini menunjukkan ketangkasan para muda-mudi dalam berlompat-lompat di antara bambu-bambu yang dimainkan.

Lompatan-lompatan komunikasi yang bisa dilakukan dari dalam mobil sembari menunggu anak pulang sekolah, ternyata telah membentuk tarian melintasi kwadran ruang dan waktu, bak tarian dodakado yang memukau itu. Dengan gesitnya seorang perempuan bisa melompat dari kwadran yang satu ke kwadran yang lain. Tak kalah dengan kegesitan lompatan kaki muda-mudi di antara bambu yang dibuka-tutup, menyerupai matrix CSCW di atas.
Betapa termanjakannya kaum perempuan dengan kemajuan teknologi konvergensi. Konvergensi pada segi konten pun tak kalah berpihaknya kepada kaum hawa, para operator penyedia jaringan juga menyuguhkan kemewahan dengan inovasi-inovasi baru yang mengagumkan.
Bagi penggemar novel, yang saya yakini sebagian besar adalah perempuan, kini tidak harus pergi ke toko buku untuk mendapatkan novel yang diinginkan. Salah satu operator seluler bahkan menawarkan kepada konsumennya untuk mengunduh novel secara bab per bab hanya lewat satu gadget mungil yang bernama handphone yang telah memiliki fasilitas GPRS atau 3G. Bekerja sambil mendengarkan konser musik klasik hasil unduhan di podcast, atau menonton TV lewat internet untuk mengikuti perkembangan berita pun menjadi tidak muskil lagi.
Dua Sisi Mata Pisau
Bagai dua sisi mata pisau, teknologi konvergensi pun memiliki tantangan tersendiri. Ditinjau dari segi makro, kita sepakat bahwa tertinggalnya suatu daerah, salah satunya disebabkan oleh infrastuktur dan informasi. Maka dengan perkembangan teknologi konvergensi yang pesat, akan menimbulkan dampak kesenjangan informasi dan kesenjangan digital (digital divide) antardaerah menjadi semakin lebar, baik dari segi infrastruktur maupun kemampuan sumber daya manusia.
Selain itu, dalam konteks pengembangan dan pemanfaatan TIK secara luas, beberapa kajian menunjukkan adanya sebagian kelompok penduduk marginal yang menghadapi kendala memanfaatkan TIK. Kelompok penduduk tersebut adalah penduduk perempuan dan penduduk miskin yang lemah dalam penguasaan TIK karena berbagai hal seperti rendahnya skill, minimnya infrastuktur dan rendahnya pendapatan.
Menyadari kesenjangan dari segi SDM tersebut, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan, tahun lalu mengadakan pelatihan Peningkatan Kapasitas Perempuan dalam TIK, dengan materi pengenalan internet, membuat email dan membuat blog di 15 propinsi. Dan sekarang, telah bermunculan perempuan-perempuan Indonesia yang memiliki kepedulian terhadap sesamanya dengan menggelar pelatihan-pelatihan serupa. Berharap dengan pelatihan tersebut dapat mengajak semakin banyak kaum perempuan Indonesia untuk berdodakado diatas kwadran ruang dan waktu.
Bagaimana dengan infrasrtuktur yang akan berfungsi sebagai penabuh instrumen?. Berdasarkan tulisan Direktur Jendral Pos dan Telekomunikasi (Dirjen Postel), Basuki Yusuf Iskandar, pada Desember 2007, “Perkembangan Teknologi Komunikasi”, rencananya akan dibangun megaproyek backbone yang bernama Palapa Ring. Palapa Ring merupakan jaringan serat optik pita lebar yang berbentuk cincin yang mengitari tujuh pulau, yakni Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua, serta delapan jaringan penghubung dan satu cincin besar yang mengelilingi Indonesia baik lewat dasar laut atau pun lewat daratan. Diungkapkan, manfaat Palapa Ring bagi pembangunan Indonesia adalah untuk :
- Ketersediaan layanan komunikasi dari voice hingga broadband sampai seluruh kota/kabupaten.
- Efisiensi investasi yang akan mendorong tarif telekomunikasi semakin murah.
- Terjadi percepatan pembangunan dalam sektor komunikasi khususnya di Indonesia Bagian Timur, dan akan mendorong bertumbuhnya varian penyelenggara jasa telekomunikasi dan jasanya.
- Keberadaan aplikasi seperti distance learning, telemedicine, e-government, dan aplikasi lainnya, dapat diimplementasikan hingga mencapai kota/kabupaten.
Investasi pembangunan Palapa Ring sepenuhnya berasal dari operator telekomunikasi anggota konsorsium, tidak ada dana yang berasal dari Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara (APBN).
Selain itu, pemerintah juga mencanangkan program Universal Service Obligation (USO), yang bertujuan untuk mempercepat akselerasi pembangunan daerah tertinggal. Berbeda dengan Palapa Ring, dana dalam proyek ini diperoleh dari prosentase keuntungan para operator yang wajib di setor ke pemerintah, ditambah dengan dana dari jastel (Depkeu) sebagai ICT fund.“Kewajiban USO dari industri awalnya 0,75% sekarang naik menjadi 1,25 % untuk akselerasi pembangunan backbone telekomunikasi,” ungkap Dirjen Postel , Basuki Jusuf Iskandar, dalam pidatonya pada acara 2nd Annual Indonesia Internasional Summit 2009, di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, 11 November 2009. Kita tunggu saja realisasi pembangunan jaringan tersebut untuk mengiringi tarian perempuan Indonesia menjadi semakin rancak.
Monggo... :)