Kamis, 30 Desember 2010

Indonesia Terkoneksi : Hiduplah Indonesia Raya!

Kabar pembangunan ’jalan tol’ telekomunikasi untuk seluruh ibukota provinsi dan cybercity 2014, seperti yang dilontarkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring pada acara bincang-bincang dengan salah satu televisi swasta mengenai ’Indonesia Digital 2014 No Blank Spot’ pada awal Desember 2010 lalu, memang bak oase dipadang gersang. Setelah sekian lama menunggu janji-janji manis, sudah saatnya pemerintah dan pihak-pihak terkait segera serius menggarap ’jalan tol’ telekomunikasi ini.

Indonesia Raya Terkoneksi
Bayangkan jika seluruh Indonesia terkoneksi, betapa luar biasa! Bisa dipastikan akselerasi percepatan daerah tertinggal akan semakin mantap, kualitas pendidikan meningkat terkait dengan derasnya informasi yang masuk, geliat perekonomianpun dipastikan juga akan turut meningkat. Singkat kata, habis gelap terbitlah terang jilid ke dua dipastikan akan menandai era ’Indonesia Raya’ Terkoneksi ini.

Teringat akan film science fiction Startrek, saat terbukanya era peradaban umat manusia bumi dengan galaksi-galaksi lain setelah ditemukan teknologi warp (warp drive) oleh Zefram Cochrane. Dengan pesawat bintang ’Phoenix’, Cochrane mencoba teknologi warp drive menembus angkasa mencapai galaksi lain yang berjarak ratusan tahun cahaya, hingga pada akirnya membuka pengetahuan baru, dimana manusia bisa menjelajah hingga tepi alam semesta.

Bisa saja Indonesia terkoneksi ini dianalogikan dengan era warp drive-nya Startrek. Dimana masyarakat di daerah tertinggal akan punya akses untuk menembus batas ruang dan waktu, berpindah dari kwadran yang satu ke kwadran yang lain dengan menggunakan Computer Supported Cooperatif Work (CSCW), yakni terkoneksi dalam waktu yang sama dengan tempat yang berbeda ataupun dalam waktu dan tempat yang berbeda, berselancar untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan dengan mudah, terkoneksi dengan masyarakat modern lainnya tanpa dibatasi oleh garis demarkasi daerah atau negara.

Membangun Infrastruktur
Dengan platform induktif seperti impian diatas, siapa yang tidak tergerak untuk meraihnya? Sejak 2007 pemerintah mulai mencanangkan program USO (Universal Service Obligation), yakni program pemerintah di bidang telekomunikasi yang bertujuan mempercepat akselerasi pembangunan daerah tertinggal. Program ini dibiayai oleh para penyelenggara telekomunikasi yang beroperasi di Indonesia, dengan cara melakukan pembayaran kontribusi kewajiban pelayanan universal (KKPU) kepada pemerintah setiap triwulan, yang besarnya dihitung berdasarkan prosentase tertentu dari pendapatan kotor penyelenggara telekomunikasi setiap tahun buku.

Namun seperti diketahui pelaksanaan proyek yang dikomando oleh pemerintah ini masih tersendat. Sudah bukan waktunya lagi bagi kita untuk saling tuding dan menyalahkan kekurang lancaran proyek USO ini. Sebagai anak bangsa sewajarnya untuk saling bahu membahu menggalang daya demi terselenggaranya pembangunan infra struktur telekomunikasi ini. Sehingga tidak diharamkan sektor swasta untuk turut berpartisipasi.


Kepedulian sektor swasta terhadap pembangunan backbone telekomunikasi untuk daerah tertinggal, tentu sangat dinantikan dan akan mempunyai manfaat yang besar bagi pertumbuhan perekonomian bangsa. Berdasarkan survei yang dilakukan ITU (International Telecommunications Union) 1% pembangunan infrastruktur telekomunikasi akan menggerakkan pertumbuhan ekonomi sebesar 3%. Sehingga melalui pembangunan telekomunikasi sebagai infrastruktur dasar, akan memacu pertumbuhan industri baru di daerah yang dibangun seperti industri pariwisata, pertanian, perikanan, industri rakyat menegah kecil, industri/jasa telekomunikasi seperti warung telekomunikasi, warung internet, layanan kesehatan jarak jauh (tele medicine), hingga layanan belajar jarak jauh (distance learning).

Dampak Indonesia Terkoneksi
Selain manfaat yang sudah dipaparkan diatas, dampak dari Indonesia terkoneksi ini akan menggerakkan multiplier effect yang luar biasa. Kesenjangan digital segera dapat diminimalisir, cita-cita untuk menerapkan e-government, e-KTP, hingga e-voting dan beragam ‘e’ lainnya bisa terimplementasi. Kemunculan industri kreatif di dunia TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) juga akan terbuka lebar dari jasa sistem hingga konten. Berbisnis pun tidak harus memerlukan modal besar. Dampak koneksi ini mematahkan slogan high budget high impact, menjadi low budget high impact.

Dapat dibayangkan bila Indonesia dari Sabang sampai Marauke yg terdiri atas sekitar 13ribu pulau dengan penduduk 235juta jiwa dapat terkoneksi secara online. Betapa manfaat yang luar biasa dapat dikembangkan, dengan interkoneksi komunikasi menjadikan Indonesia sebagai pasar potensial yang sangat besar.

Namun hal ini harus dicermati, agar peluang besar ini tidak dimanfaatkan oleh pihak asing. PR selanjutnya adalah kiat membekali masyarakat dengan edukasi yang cukup sehingga dapat menggunakan teknologi ini untuk kesejahteraannya. Seperti yang diungkapkan oleh Roberts S. Kaplan, dalam buku Strategy MAPS, dimana Human Capital adalah intangible asset yang mempunyai faktor penting untuk diekplor menjadi tangible asset, maka bangsa ini sudah mempunyai intangible asset dalam jumlah besar. Mari kelola intangible asset bangsa Indonesia menjadi tangible asset dengan bantuan teknologi telekomunikasi, tarik jangkar kembangkan layar menuju Indonesia Raya Terkoneksi.

Kamis, 23 Desember 2010

Digital Gangsters, Ancaman atau Peluang?

Mendengar kata gangsters, segera terbayang sekelompok anak muda dengan wajah dingin, kerah overcoat berdiri, dengan gaya cool dilengkapi senjata pistol. Demikian gambaran gangsters di dunia nyata yang tertuang dalam film-film produksi hollywood dan melekat di masyarakat luas. Bagaimana dengan di dunia maya? Dapat dipastikan mereka bukan orang-orang yang mempunyai rambut cepak, badan kekar ataupun wajah sangar. Justru mereka kebanyakan masih
remaja dengan anugerah wajah malaikat.

Mengenal Digital Gangsters
Digital Gangsters (DG) disinyalir sebagai komunitas yang melakukan ‘kenakalan’ di dunia digital hingga bisa mendapatkan uang secara mudah melalui internet dengan cara kurang etis atau bahkan tidak etis, namun susah untuk dijerat oleh undang-undang. Apakah merugikan atau melanggar privasi orang lain? Tentu saja! Siapa yang rela datanya dicuri atau account-nya di obok-obok oleh orang lain? Dalam sepak terjangnya, digital gangsters tidak seperti virus flu atau virus internet yang tanpa pandang bulu menyerang Netizen (orang yang terlibat aktif dalam komunitas online). Namun, komunitas ini sangat berbahaya bagi kalangan institusi dan selebriti, baik itu politisi maupun kaum birokrat.

Siapa saja yang termasuk dalam kategori DG? Ada yang sembunyi-sembunyi, namun ada juga yang mengaku blak-blakan, bahkan memiliki forum resmi dan mempunyai situs sendiri, antara lain www.digitalgangsters.com. Dimana para 'hacker' kelas dunia sering 'nongkrong' disana dan memamerkan kehebatan mereka dalam mencuri data yang kemudian memamerkannya di situs tersebut.

Selanjutnya, siapa tak kenal Wikileaks? salah satu situs yang dioperasikan oleh organisasi internasional yang bermarkas di Swedia. WikiLeaks menjadi perhatian dunia, bukan karena menyajikan berita yang baru dan aktual, namun karena mengundang kontroversi. Seperti dilansir Wikipedia, pada bulan Juli 2010, situs ini menyajikan pembocoran dokumen Perang Afganistan. Selanjutnya, pada Oktober 2010, hampir 400.000 dokumen Perang Irak dibocorkan oleh situs ini. Pada November 2010, WikiLeaks mulai merilis kabel diplomatik Amerika Serikat. Selain itu, situs ini juga mengungkapkan dokumen aktivitas militer AS, tentara Pakistan, kepemimpinan politik Afghanistan, dan hubungan dengan pemimpin al Qaeda dan Taliban. Pengungkapan itu terdiri dari 91.731 dokumen, meliputi periode antara Januari 2004 dan Desember 2009. Sebelum dirilis ke publik, Wikileaks telah memberikan akses kepada The Guardian, The New York Times, dan Der Spiegel. Kebanyakan dokumen ini dikelompokan sebagai dokumen "rahasia". Sehingga, kebocoran dokumen rahasia ini dianggap sebagai salah satu yang terbesar dalam
sejarah militer Amerika Serikat.

Wow betapa dasyatnya! Apakah Wikileaks masuk dalam katagori digital gangsters? Bagi institusi yang merasa dirugikan bisa jadi situs ini dituding sebagai DG. Namun bagi netter pada umumnya, WikiLeaks dianggap sebagai situs yang menyiarkan keterbukaan informasi terhadap publik. Memaparkan fakta yang bisa menjadi pencerahan di dunia informasi.

Bagaimana dengan DG di Indonesia? Walaupun tidak terang-terangan, profesi ini kini berkembang dan diminati sebagai pekerjaan baik part-time maupun full-time atas nama 'kenakalan' dengan bonus menghasilkan uang di dunia maya. Sebagai contoh, situs multilevel marketing yang tidak bertanggung jawab, seperti arisan piramid dengan iming-iming hadiah mobil. Mereka meminta kita menyetor sejumlah uang baik lewat ATM atau internet banking dan tidak jelas siapa yang dapat, setelah sekian lama tiba-tiba situsnya raib begitu saja. Contoh lain, pernahkah anda mendapatkan pesan di inbox Facebook yang menawarkan jasa bisa meng-hack akun Facebook seseorang dalam jangka waktu tertentu, dengan meminta imbalan tertentu. Dan uangnya akan diambil jika sudah terbukti bisa melaksanakan permintaan klien untuk membajak akun FB orang tertentu. Para crackers (orang yang membobol sistem keamanan jaringan komputer, baik untuk uang atau sekedar memenuhi tantangan namun cenderung merugikan) ini membentuk group atau ‘geng’ tersendiri , tergabung dalam satu komunitas dan menjadi digital gangsters bagi netters lainnya.
Tentu modus ‘kenakalan’ mereka bisa beraneka ragam.

Minat anak muda untuk menjadi crackers atau hackers ternyata tidak bisa dianggap enteng, simak saja peserta seminar yang selalu membludak ketika salah satu majalah Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) Nasional menggelar acara tahunan Hackers Day, bahkan panitia harus menolak banyak peserta dikarenakan keterbatasan tempat. Hal itu terjadi tidak hanya di ibukota saja, melainkan juga di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Medan dan Surabaya.

Muda dan Berbahaya
Muda dan berbahaya adalah kombinasi yang mematikan. Betapa tidak, karena kaum muda seringkali menjadi agen perubahan, mereka lebih adaptif dan mudah menyerap berbagai hal baru dan menjadikannya sebagai sebuah tren. Kreatifitas dan energi yang besar adalah aset terbaik bagi kaum muda untuk mampu melakukan hal-hal besar dengan melahirkan tren-tren di dunia digital, dimana generasi analog harus tertatih-tatih mengikutinya.

Kaum muda yang tumbuh di jaman ini, memang terlahir sebagai warganegara digital yang cepat berinteraksi di dunia digital. Berbeda dengan generasi analog yang perlu ‘sertifikat kemampuan digital’ untuk dapat bermigrasi. Kecerdasan generasi digital jika tidak dibekali dengan etika bisa berefek negatif. Ingat bagaimana Mark Zuckerberg dalam film Social Networks? Sang penggagas Facebook ini melakukan pencurian ID teman-temannya dari database website Harvard, hanya untuk membuat ‘smash face’, yakni situs lelucon ala Zuckerberg, dengan membandingkan dua orang disertai pertanyaan konyol untuk mendapat pendapat dari teman-temannya dan disebar ke 22.000 Netters.

Bagi Zuckerberg dan teman-temannya, hal ini tentu merupakan hiburan dari ‘kenakalan’ di dunia maya, namun bagaimana dengan orang yang dijadikan bulan-bulanan dalam permainan tersebut? Bisa dipastikan merasa terganggu, tersinggung bahkan marah. Dan ketika dikenakan sangsi dari Harvard, tempatnya menuntut ilmu, karena membobol keamanan website Harvard, Zuckerberg justru berpendapat sebaliknya, yakni seharusnya dia memperoleh imbalan karena dapat menemukan celah untuk masuk dan mengakses database Harvard University.

Di Indonesia, beberapa crackers mencari uang dengan cara yang sama, sebagai contoh hacker muda dan penulis buku mengenai per-hacker-an, ‘Thor’, pernah membobol database salah satu Universitas Swasta di Jakarta, dan kemudian menginformasikan kepada pihak yang dibobol bahwa dia sanggup masuk ke private-database mereka. Selanjutnya hacker tersebut justru mendapatkan imbalan dari institusi yang dibobol setelah memaparkan kelemahan-kelemahan sekuritas sistem komputer dan jaringan mereka.

Kegiatan bobol-membobol ini mungkin hanya dianggap sebagai ‘kenakalan’ ataupun menjajal ‘kedigdayaan’ para crackers. sebelum mereka menciptakan kreatifitas yang bisa meraup rupiah atau menjadi bilyuner seperti sang pendiri Facebook Mark Zuckerberg. Ada baiknya kita tanya pada pendiri Kaskus, situs tempat nongrong netters yang cukup besar dan disegani di Indonesia, apakah pernah melakukan hal serupa? Menjadi gangsters di dunia digital?

Efek Konvergensi dan Koneksi Broadband
Tidak bisa dimungkiri, perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang bermuara ke konvergensi memiliki andil kuat dalam perkembangan DG di Indonesia. Konvergensi teknologi telekomunikasi yang ditandai dengan tergabungnya beberapa alat telekomunikasi bahkan broadcast dalam satu perangkat sehingga lebih efisien, nyaman dan mempunyai manfaat bagi penggunanya, diyakini sebagai cikal bakal perubahan gaya hidup digital secara besar-besaran. Ditunjang oleh kemudahan layanan koneksi broadband yang nyambung terus, yang digelontorkan oleh operator-operator Telekomunikasi Nasional, kemudahan koneksi ini mengakibatkan kreatifitas para netters menjadi tak terbendung. Mereka bisa menjelma menjadi citizen journalis, melakukan bisnis, jual-beli, ber-sosial network, membangun blog-blog kreatif, hingga ’kenakalan’ sebagian netter. Membobol sistem keamanan suatu institusi ataupun ID para selebriti, yang kemudian berkelompok, menimbulkan huru-hara di dunia maya, hingga menjadi gangsters.

Kita pasti sepakat, memang tak diragukan lagi manfaat yang diperoleh masyarakat dari teknologi konvergensi . Teknologi ini telah menumbuhkan peluang besar bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan pribadi yang berujung pada peningkatan kesejahteraan dalam satu tatanan masyarakat global.

Konvergensi TIK telah memberikan banyak manfaat dan peluang, namun bak dua sisi mata pisau, teknologi ini juga bisa menimbulkan ancaman tersendiri, yakni dengan adanya kejahatan-kajahatan di dunia maya. Bullying di dunia maya pun sekarang marak terjadi, saling memaki dan melakukan kampanye negative terhadap seseorang melalui situs jejaring sosial hingga sang korban merasa ‘tersakiti’ bahkan ada yang bunuh diri. Bagaimana bisa? Dahulu, orang tua kita mampu memberikan trik-trik kepada anaknya untuk bertahan ataupun membela diri dalam sebuah ‘perkelahian’ berdasarkan pengalaman mereka waktu muda, namun sekarang yang terjadi mereka tidak punya kiat-kiat yang dapat direferensikan untuk membeladiri dari bullying di dunia digital. Sementara, para netters muda ini tidak punya guru yang memberikan bekal edukasi cukup untuk berkiprah di dunia digital. Mungkin mereka tidak bertujuan menyakiti sesamanya, bahkan beranggapan tidak ada yang salah dengan memperoleh uang secara gampang dari internet, bukankah hal tersebut bisa menyejahterakan financial mereka?

Seringkali institusi-institusi yang concern terhadap keamanan web ataupun sistemnya mengundang para crackers untuk membobol sistem sekuritas mereka. Dan yang berhasil membobol akan diberi imbalan setelah memaparkan kelemahan sistem jaringan komputer mereka. Sehingga sistem keamanan jaringan computer institusi tersebut bisa semakin rigid dan aman.

Barangkali informasi mengenai digital gangsters diatas terkesan tabu untuk dipaparkan dalam forum akademik dan dianggap sebagai kontra manfaat bagi teknologi konvergensi, tetapi apakah kaum muda sepakat dengan hal tersebut? Sebagian dari mereka beranggapan sah-sah saja dan bahkan bangga tergabung dalam komunitas DG.

Perlu peran pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk melakukan dialog mengenai etika di dunia digital, agar tidak memiliki konotasi ambigu mengenai digital gangsters. Sudah selayaknya kita bahu membahu guna memberikan edukasi tanpa henti kepada generasi muda yang notabene adalah warganegara dari Digital Nation, yang juga sang penerus bangsa untuk menjadi warga berperilaku santun dan mempunyai standar etika tinggi di dunia digital.

Kamis, 16 September 2010

E-Voting untuk Pemilu di Indonesia 2014

(Lomba Rancang Bangun Pemanfaatan TIK untuk Pemilu e-Voting)



Besarnya biaya pemilu yang harus dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia yang mencapai kisaran 1,8 trilyun dalam tahun anggaran 2008-2009, seperti dilansir oleh beberapa media telah mengusik banyak pihak. Berbagai organisasi atau lembaga baik pemerintah maupun non pemerintah, berusaha untuk memberikan sumbang pikir guna dapat menyelesaikan masalah efisiensi/penghematan biaya Pemilu. Dalam kesempatan ini BPPT, sebagai agen teknologi pemerintah terpanggil untuk memberikan sumbang pikir melalui teknologi tepat guna yang dapat dikembangkan dan diterapkan pada pemilu 2014, yakni melalui teknologi e-voting.

Dasar Pemikiran e-voting

Teknologi e-voting lebih ditujukan untuk menunjukkan dan menjawab keakuratan, kecepatan, keterbukaan, efisiensi biaya, serta tututan paperless (green computing/election). Sehingga akan terjadi efisiensi diberbagai sektor yang bermuara pada penghematan anggaran.

Lain dari hal tersebut diatas, diharapkan pada tahun 2012 Indonesia sudah mengimplementasikan KTP elektronik dengan Nomor induk Tunggal dengan identifikasi Sidik jari, sebagaimana termaktub dalam undang-undang.

Sehingga penerapan e-voting dalam pemilihan presiden, legislatif maupun kepala daerah dapat dilaksanakan tanpa kendala karena infrstruktur dasarnya E-KTP sudah terimplementasikan.

Mendukung Asas Luber dan Jurdil (Langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil)

Dalam kegiatan pemilihan suara, sering terjadi kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh human error atau penyimpangan golongan masyarakat. Hal ini sering menimbulkan kontroversi karena kurangnya kepercayaan terhadap penyelenggara kegiatan tersebut. Oleh karena itu kegiatan voting membutuhkan prosedur pelaksanaan yang dapat menjamin kerahasiaan dan keabsahan dari hasil pelaksanaannya untuk menghindari terjadinya kontroversi.

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam kegiatan pemilihan e-voting merupakan salah satu solusi untuk menghindari masalah-masalah yang menyebabkan terjadinya konflik dalam kegiatan voting, sehingga diharapkan proses voting akan menjadi lebih baik.

Hadirnya inovasi dari sisi teknologi hardware yaitu electronic voting machine juga dapat memudahkan masyarakat (sang empunya hak pilih), bahkan yang memiliki keterbatasan buta huruf-pun dapat terlibat dalam pemungutan suara, melalui visualisasi dan mekanisme pemilihan yang mudah.

Bertukar pikiran dan pandangan dengan Masyarakat melalui : Lomba Rancang Bangun Pemanfaatan TIK untuk Pemilu”e-Voting”.

Kepedulian dan keseriusan BPPT, sebagai lembaga pemerintah dalam mendukung salah satu pilar demokrasi yang paling utama yakni Pemilu, telah mendorong lembaga ini untuk mengembangkan sistem e-voting.

Guna memperoleh masukan dari masyarakat, para akademisi, praktisi ataupun pelaku industri dan komunikasi di seluruh Indonesia, BPPT mengundang masyarakat luas untuk bertukar pikiran dan pandangan melalui lomba Rancang Bangun Pemanfaatan TIK untuk Pemilu ”e-voting”.

Melalui event ini diharapkan dapat digali potensi penerapan e-voting dalam upaya peningkatan kwalitas penguatan dan pemanfaatan IPTEK serta mendorong inovasi teknologi secara nasional, yang akan meningkatkan kemandirian bangsa.


Menyadari pentingnya masukan dan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam menyukseskan Pemilu 2014 (seperti tersebut diatas), maka bulan lalu, bertepatan dengan HARTEKNAS, BPPT mengundang masyarakat untuk mengikuti lomba Rancang Bangun TIK untuk Pemilu“e-Voting“ yang dibuka dari tanggal 19 Juli sampai dengan 27 Agustus 2010.

Perlunya sosialisasi.

Melihat kenyataan tersebut diatas dapat dikatakan bahwa program pemanfaatan dan penerapan e-voting merupakan program yang strategis, bukan hanya memiliki bobot pemberdayaan/penggunaan teknologi yang cukup tinggi, program ini juga dapat menjadi gerbong pengembangan inovasi anak-anak bangsa dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi. Lebih dari itu program ini juga bisa dijadikan sebagai momentum kebangkitan Teknologi Informasi dan Telekomunikasi anak bangsa, dan didasari dengan semangat kesatuan.

Untuk itu sosialisasi kepada masyarakat luas sangat dibutuhkan. Dukungan media baik cetak, on line, radio terlebih televisi yang terintegrasi akan sangat membantu sampainya pesan ini ke masyarakat luas sebagai stake holder dan pemilik pesta Demokrasi (Pemilu).

Senin, 28 Desember 2009

Fenomena Ghost Writer di Dunia Maya

(HEAD LINE @kompasiana.com)

Menyimak dari namanya, cukup menyeramkan juga...seperti berbau hantu..:), tapi benarkah demikian?, bisa masuk katagori scary job kah? Hm...mari kita simak fenomena profesi yang semakin memiliki lahan subur dalam era konvergensi bin digital ini.

Efek Konvergensi.
Sebetulnya keberadaan ghost writer sudah eksis sejak dahulu, mulai dari menuliskan naskah pidato para pejabat, membuatkan artikel, bahkan sampai karya akademik berupa skripsi, juga desertasi doktor dengan atas nama sang pemesan. Selanjutnya, tak bisa dipungkiri, perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ternyata telah menjadi salah satu faktor pemicu pesatnya perkembangan profesi ghost writer. Bagaimana tidak, saat ini tren gaya hidup telah menuju bahkan beralih ke digital online, berbagai berita dari berbagai belahan dunia bisa kita akses dengan mudah hanya dari sebuah telepon seluler “seri konvergensi” yang minimal sudah memiliki fasilitas General Package Radio Service (GPRS). Lain dari itu, sekarang setiap individu juga bisa memiliki wahana publikasi dengan kondisi relatif tanpa biaya alias murah di dunia yang baru saja menjerat Luna Maya dan Prita Mulya ke ranah hukum ini. Dahulu, ketika menggunakan media konvensional, akan sangat mustahil bila kita melakukan promosi atau publikasi dengan anggaran atau dana cekak tetapi menginginkan hasil yang mempunyai dampak luas. Bahkan saya masih ingat pepatah yang sering diungkapkan oleh ayah saya, “Kalau mau mancing buaya ya umpannya monyet, bukan cacing” (hm...untung beliau tidak mengatakan cicak..:) ), analogi tersebut menggambarkan, jika kita menginginkan sesuatu yang besar maka dibutuhkan juga modal yang besar.

Lain dulu lain sekarang, dengan perkembangan teknologi TIK yang bermuara ke konvergensi, promosi dan publikasi bisa menjadi milik siapa saja, Media Blog maupun Website (Web) sekarang banyak dipilih sebagai salah satu marketing tool oleh berbagai kalangan sebagai media promosi, publikasi atau pencitraan diri, baik itu artis, politisi, public figur, pejabat (yang sudah tinggi maupun yang belum tinggi), pengusaha, institusi baik yang berorientasi pada keuntungan maupun tidak, hingga masyarakat umum. Selain karena murah, alasan yang lebih kuat adalah efisiensi serta memiliki efek yang dasyat. Memang media online memiliki beberapa keunggulan, dan yang paling mendasar adalah real time, sehingga memiliki link yang terintegrasi sudah menjadi kebutuhan mutlak bagi para profesional untuk lebih memiliki eksistensi di era digital ini. Bagaimana jika tidak memiliki waktu untuk meng update situs-nya karena kesibukan pekerjaan? bagi juragan berkantong tebal, bukan masalah, serahkan saja pada “Gost Writer”.
Para Ghost Writer di Dunia Maya

Dalam satu kesempatan, seorang teman, berbisik kepada saya ketika seseorang melintas didepan kami, “Itu tuh, dia ghost writer nya si ‘A’, makanya sekarang mayan (bc: lumayan) tuh hidup nya..”. Seketika, saya pun bisa membayangkan ke “mayan” an hasil meng-ghostwriter-in pengusaha muda A yang juga putera mahkota pengusaha besar dan sudah kondang dalam keberhasilan mengelola kerajaan bisnisnya bahkan sampai ke manca negara, hal itu bisa terlihat dari penampilan perlente sang ghost writer yang dilengkapi gadget terbaru seri “konvergensi” yang menempel pada dirinya. Pengusaha “A” tersebut telah menyewa sang ghost writer untuk mengelola blog miliknya , dan menulis artikel-artikel berdasarkan pesanan, sehingga masyarakat yang membaca berasumsi bahwa tulisan tersebut adalah opini atau ide kreatif dari sang pemilik blog.

Ditinjau dari perspektif ekonomi, tidak ada yang salah, dari sang pemberi order maupun sang penerima order. Bahkan tercipta simbiosis mutualisme. Karena kesibukannya, sang pemberi order yang mungkin tidak terlalu pandai dalam menuangkan ide nya menjadi kata-kata yang bermakna positif terkait dengan pencitraan dirinya kemudian menyewa penulis untuk mengelola blog atau web nya. Tentunya dengan memberikan upah yang bisa lebih menyejahterakan sang ghost writer. Sekilas tidak ada bedanya dengan perusahaan yang menyewa Public Relation (PR). Namun akan menjadi masalah dari sudut pandang kode etik bila sang ghost writer adalah reporter atau penulis profesional (bc : wartawan) yang sudah memiliki kontrak kerja dan berjanji untuk mendedikasikan keprofesionalan mereka pada institusi yang menaunginya. Disinilah makna “ghost” menjadi lebih nyata. Karena sang penulis benar-benar berkeinginan untuk menjadi “ghost” dan tidak ingin mengungkapkan jati dirinya, namun ingin memperoleh penghasilan tambahan dengan bekerja sampingan.

Contoh lain, seorang teman yang lain, bercerita bahwa dirinya mengelola blog artis ternama model merk sabun mandi terkemuka, “Placement kita lain, dia bukan artis kacangan, tapi seorang artis yang educated dan memiliki kelas tersendiri. Sehingga perlu pencitraan yang sesuai dengan kelasnya, jadi image sebagai artis papan atas tetap terjaga.”, ungkapnya ketika saya meminta sang artis untuk menjadi pembawa acara dalam sebuah Seminar Interternasional sebagai hasil kerja bareng Goverment to Goverment di pertengahan tahun ini. Terus apa saja yang ditulis dan di-posting dalam blog artis tersebut? Menurut sang ghost writer, dia mendokumentasikan dan memosting kegiatan-kegiatan sang artis, menjawab komentar-komentar dari penggemarnya, bahkan sampai dengan menulis opini atau artikel yang tentu saja atas nama sang artis dan seolah-olah sebagai hasil buah pemikiran sang artis.
Sekilas tampak sah-sah saja selama kedua belah pihak terpuaskan dengan hasil yang diperoleh.
Etika dan Aturan Main.

Dari paparan diatas, sebetulnya bagaimanakah etikanya? Apakah profesi ghost writer ini bisa dikatagorikan sebagai pekerjaan yang halal? Mengingat ada konspirasi (mesti kecil) didalamnya. Karena bagaimanapun juga termuat kebohongan publik ditengah era keterbukaan yang sedang diperjuangkan di republik ini.

Dan bagaimana jika timbul masalah, terkait dengan tulisan sang ghost writer? Misalnya ada pihak ketiga yang tidak berkenan dengan tulisan atau postingan sang ghost writer dan kemudian menuntut atau melaporkan ke pihak berwajib. Disini, siapakah yang layak dilaporkan dan dituntut? Adakah undang-undang Internet dan Transaksi Elektronik (ITE) yang mengaturnya? Sebagaimana kita ketahui, undang-undang ITE yang sekarang sedang hangat diperbincangkan adalah UU ITE pasal 27 ayat 3 mengenai pencemaran nama baik yang juga telah menyeret Prita Mulya Sari ke balik jeruji besi. Oleh karena itu, terlepas dari haram atau halal atas profesi ini, para ghost writer harus lebih cermat dan hati-hati sebelum me-mosting tulisannya ke blog maupun situs sang juragan pemesan, karena ancaman hukumannya tidak main-main, yakni enam tahun kurungan atau denda 1 Milyar. Dan bagi pemberi order ada baiknya membaca terlebih dahulu tulisan tersebut sebelum di-posting, sebagai double cross check. Selanjutnya, sebagai konsekuensi logis dari manusia dewasa, tentu kita harus bertanggung jawab terhadap segala perbuatan yang kita lakukan, life about choises...
(Ini baru prolog dari sebuah episode, selanjutnya adakah yang berkeinginan meng-edukasi masyarakat mengenai hal ini...monggo..:) )

Senin, 23 November 2009

Menari di atas Kwadran Ruang dan Waktu

(Perempuan Indonesia dalam Era Konvergensi Teknologi Informasi dan Komunikasi).

the big sixth @XL AWARDS 2009

“Baik.. Dua ekor ayam kampung.. Dikirim kemana njjih...?” ujar seorang ibu sambil mengempit telepon di antara kepala dengan bahunya. Tangan kirinya menggendong bocah usia dua tahunan. Sementara tangan kanannya menulis alamat sang pemesan. Semua anggota tubuhnya aktif. Bergerak serentak namun harmonis bak sedang menari.

Pemandangan alam pedesaan yang indah, ditingkah dengan “tarian” kesibukan sang ibu itu begitu mengesan di benak saya. Terjadinya sudah hampir duapuluh tahun silam, saat saya makan siang di sebuah warung ayam goreng, usai pulang kuliah. Tanpa bermaksud memuji berlebihan (hanya karena saya juga sesama perempuan), ditengah keterbatasannya, perempuan memang manusia multitasking. Guna menunjang bisnisnya, sang ibu pengusaha kecil tersebut telah berkarib dengan teknologi telekomunikasi untuk menjalin komunikasi yang lebih efisien dengan pelanggannya. Waktu itu, alat telekomunikasi yang digunakan masih berupa fixed phone yang lazim disebut telepon.

Lewat dua dekade, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berkembang demikian pesat hingga menuju ke muara konvergensi. Konvergensi TIK, dalam makna sederhana yang saya pahami, adalah tergabungnya beberapa alat telekomunikasi bahkan broadcast dalam satu perangkat sehingga lebih efisien, nyaman dan mempunyai manfaat bagi penggunanya. Tentu ada arti yang lebih ilmiah bagi istilah konvergensi ini sebagaimana dirumuskan oleh para pakar. Salah satunya, Malaysian Communication and Multimedia Commission (MCMC), merumuskan konvergensi sebagai “Progressive integration of value chain of the information and content industries into a single market and value chain based on the use of distributed digital technology, (MCMC 2001)”.
Sebagai pengguna sekaligus penikmat, saya tidak akan membahas detail mengenai teknologi konvergensi dari sudut pandang analisa teknologinya. Selain bukan kapasitas saya, kapabilitas diri pun patut diragukan..:).

Instrumen Pengiring Tarian
Perkembangan TIK yang teraplikasi dalam satu perangkat atau bahasa kerennya gadget yang mudah ditenteng, memang bak instrumen sakti bagi para pekerja kreatif dan perempuan pebisnis yang memiliki mobilitas tinggi, guna memulai “tarian”-nya.
Sementara, para operator penyedia jaringan berperan sebagai penabuh instrumen tersebut.

Saat ini, para operator berlomba memberikan layanan jaringan internet maupun telepon yang relatif terjangkau bagi masyarakat. Dengan infrastruktur dari jaringan kabel, fiber optic, hingga satelite. Ketika diikuti dengan diluncurkan USB modem seluler ke pasar, maka slogan “kapanpun, di manapun, siapapun” milik salah satu merk minuman multinasional sah terimplementasi. Dengan USB modem yang dicolokkan ke laptop, selanjutnya bisa on line kapanpun, di manapun dan bisa dilakukan oleh siapapun.
Pilihan lain, hanya dengan bermodal ponsel yang telah dilengkapi teknologi 3G, kita bisa tersambung jaringan internet dengan cara berlangganan baik harian maupun bulanan, yang sekarang marak ditawarkan oleh para operator penyedia jaringan.
Bagi yang cekak dana, jika ponselnya 3G dan dilengkapi dengan WiFi, tak perlu mengeluarkan uang untuk berlangganan, manfaatkan saja fasilitas-fasilitas hot spot yang sekarang banyak disediakan sebagai tambahan kenyamanan fasilitas publik. Jika koneksinya byar-pet, harap maklum dan doakan saja semoga yang berkepentingan segera memperbaiki dan meningkatkan fasilitas jaringannya. Namanya juga gratis...:).
Kemudahan jaringan internet dan gadget seri “konvergensi” tersebut menjadi instrumen penting yang akan mengiringi lompatan-lompatan indah perempuan Indonesia, dalam tarian di atas kwadran ruang dan waktu.

Tarian di Atas Kwadran
Instrumen telah siap, didukung dengan kemampuan multitasking yang sudah menjadi generic skill kaum hawa maka akan tercipta efisiensi yang maksimal. Kreativitas menjadi tidak lagi terbelenggu, melainkan dapat tereksplorasi bebas melintasi kwadran ruang dan waktu.

Merujuk kejadian 20 tahun silam di warung ayam goreng itu, menurut diagram The Basic Matrix, yang menganalisa mengenai kwadran ruang dan waktu, maka sang ibu tersebut telah melakukan peran multitaskingnya dan melakukan loncatan melintasi kwadran ruang dan waktu dengan bantuan teknologi telekomunikasi telepon seperti tepapar berikut ini:


Dalam waktu yang bersamaan sang ibu tersebut bisa melompat dari tugas merawat anak (same time same place) , kemudian meluncur ke same time different place, ketika menjalin komunikasi dengan pelanggannya melalui telepon. Pada masa itu, untuk melakukan asynchronous communication dengan posisi different place different time, belum ada sarana teknologinya selain dengan cara manual yakni surat.

Memasuki era konvergensi, diagram basic di atas mengalami perkembangan yang luar biasa. Komunikasi bisa dilakukan secara mobile, melalui handphone (cellphone), video conference, share view, files, bahkan mengedit files secara bersamaan. Dari teori time/space matrix for non-computer technologies (Dix et al 1998) menuju ke Computer Supported Cooperatif Work, seperti terpapar berikut ini (CSCW). Apa yang bisa dilakukan kaum hawa dalam kwadran di atas? Mari kita cermati.




Teringat oleh istilah It takes two to tango, maka berpasangan dengan TIK, perempuan bisa menari dari kwadran yang satu ke kwadran yang lain dalam satu kurun waktu sesuai dengan kebutuhan. Konvergensi TIK akan semakin menyempurnakan keunggulan generik multitasking yang sudah mereka miliki.
Contoh soal, ketika konsekuensi kodrati dan tanggung jawab sebagai ibu mengharuskan kaum perempuan untuk merawat buah hati yang masih balita, bekerja dari rumah menjadi pilihan yang rasional. Seorang penulis perempuan yang tak luput dari konsekuensi tersebut, bisa menyelesaikan tugasnya tanpa harus meninggalkan sang buah hati, artikel/tulisan dapat dikirim melalui e-mail. Dalam tempo yang sangat singkat, dia dapat menari dan melompat dari kwadran same time-same place, ketika menjaga anak. Kemudian meluncur ke kwadran different time different place, saat mengirim e-mail hasil pekerjaan, yang mungkin akan dibuka oleh koleganya dalam waktu yang berbeda.

Tak pelak, dengan diiiringi istrumen gadget seri “konvergensi” berupa handphone yang ditabuh oleh para operator penyedia jaringan, perempuan akan mampu menggenggam dunia ditengah keterbatasan kodratinya. Bagi pengusaha perempuan, mengelola dan mengendalikan bisnis pun menjadi semakin efisien. Berkomunikasi dengan klien, distributor, dan kolega tidak harus bertatap muka lagi. Melainkan bisa dilakukan dengan e-mail, teleconference, chatting melalui skype, Yahoo! Messenger atau MSN, dan semua itu bisa dilakukan hanya melalui sebuah handphone yang sudah memiliki teknologi “konvergensi”.

Menjalankan bisnis sambil menjemput anak pulang sekolah, bukan masalah. Mari kita simak betapa dasyatnya pekerjaan yang bisa dilakukan di mobil sembari menunggu anak pulang sekolah dalam kwadran ruang dan waktu berikut ini:

Rakyat Alor, Nusa Tenggara Timur, memiliki sebuah tarian bernama dodakado yang menggambarkan keceriaan muda-mudi pada saat acara-acara pesta adat. Tarian ini menunjukkan ketangkasan para muda-mudi dalam berlompat-lompat di antara bambu-bambu yang dimainkan.


Lompatan-lompatan komunikasi yang bisa dilakukan dari dalam mobil sembari menunggu anak pulang sekolah, ternyata telah membentuk tarian melintasi kwadran ruang dan waktu, bak tarian dodakado yang memukau itu. Dengan gesitnya seorang perempuan bisa melompat dari kwadran yang satu ke kwadran yang lain. Tak kalah dengan kegesitan lompatan kaki muda-mudi di antara bambu yang dibuka-tutup, menyerupai matrix CSCW di atas.

Betapa termanjakannya kaum perempuan dengan kemajuan teknologi konvergensi. Konvergensi pada segi konten pun tak kalah berpihaknya kepada kaum hawa, para operator penyedia jaringan juga menyuguhkan kemewahan dengan inovasi-inovasi baru yang mengagumkan.
Bagi penggemar novel, yang saya yakini sebagian besar adalah perempuan, kini tidak harus pergi ke toko buku untuk mendapatkan novel yang diinginkan. Salah satu operator seluler bahkan menawarkan kepada konsumennya untuk mengunduh novel secara bab per bab hanya lewat satu gadget mungil yang bernama handphone yang telah memiliki fasilitas GPRS atau 3G. Bekerja sambil mendengarkan konser musik klasik hasil unduhan di podcast, atau menonton TV lewat internet untuk mengikuti perkembangan berita pun menjadi tidak muskil lagi.

Dua Sisi Mata Pisau
Bagai dua sisi mata pisau, teknologi konvergensi pun memiliki tantangan tersendiri. Ditinjau dari segi makro, kita sepakat bahwa tertinggalnya suatu daerah, salah satunya disebabkan oleh infrastuktur dan informasi. Maka dengan perkembangan teknologi konvergensi yang pesat, akan menimbulkan dampak kesenjangan informasi dan kesenjangan digital (digital divide) antardaerah menjadi semakin lebar, baik dari segi infrastruktur maupun kemampuan sumber daya manusia.

Selain itu, dalam konteks pengembangan dan pemanfaatan TIK secara luas, beberapa kajian menunjukkan adanya sebagian kelompok penduduk marginal yang menghadapi kendala memanfaatkan TIK. Kelompok penduduk tersebut adalah penduduk perempuan dan penduduk miskin yang lemah dalam penguasaan TIK karena berbagai hal seperti rendahnya skill, minimnya infrastuktur dan rendahnya pendapatan.

Menyadari kesenjangan dari segi SDM tersebut, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan, tahun lalu mengadakan pelatihan Peningkatan Kapasitas Perempuan dalam TIK, dengan materi pengenalan internet, membuat email dan membuat blog di 15 propinsi. Dan sekarang, telah bermunculan perempuan-perempuan Indonesia yang memiliki kepedulian terhadap sesamanya dengan menggelar pelatihan-pelatihan serupa. Berharap dengan pelatihan tersebut dapat mengajak semakin banyak kaum perempuan Indonesia untuk berdodakado diatas kwadran ruang dan waktu.

Bagaimana dengan infrasrtuktur yang akan berfungsi sebagai penabuh instrumen?. Berdasarkan tulisan Direktur Jendral Pos dan Telekomunikasi (Dirjen Postel), Basuki Yusuf Iskandar, pada Desember 2007, “Perkembangan Teknologi Komunikasi”, rencananya akan dibangun megaproyek backbone yang bernama Palapa Ring. Palapa Ring merupakan jaringan serat optik pita lebar yang berbentuk cincin yang mengitari tujuh pulau, yakni Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua, serta delapan jaringan penghubung dan satu cincin besar yang mengelilingi Indonesia baik lewat dasar laut atau pun lewat daratan. Diungkapkan, manfaat Palapa Ring bagi pembangunan Indonesia adalah untuk :
- Ketersediaan layanan komunikasi dari voice hingga broadband sampai seluruh kota/kabupaten.
- Efisiensi investasi yang akan mendorong tarif telekomunikasi semakin murah.
- Terjadi percepatan pembangunan dalam sektor komunikasi khususnya di Indonesia Bagian Timur, dan akan mendorong bertumbuhnya varian penyelenggara jasa telekomunikasi dan jasanya.
- Keberadaan aplikasi seperti distance learning, telemedicine, e-government, dan aplikasi lainnya, dapat diimplementasikan hingga mencapai kota/kabupaten.
Investasi pembangunan Palapa Ring sepenuhnya berasal dari operator telekomunikasi anggota konsorsium, tidak ada dana yang berasal dari Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara (APBN).

Selain itu, pemerintah juga mencanangkan program Universal Service Obligation (USO), yang bertujuan untuk mempercepat akselerasi pembangunan daerah tertinggal. Berbeda dengan Palapa Ring, dana dalam proyek ini diperoleh dari prosentase keuntungan para operator yang wajib di setor ke pemerintah, ditambah dengan dana dari jastel (Depkeu) sebagai ICT fund.“Kewajiban USO dari industri awalnya 0,75% sekarang naik menjadi 1,25 % untuk akselerasi pembangunan backbone telekomunikasi,” ungkap Dirjen Postel , Basuki Jusuf Iskandar, dalam pidatonya pada acara 2nd Annual Indonesia Internasional Summit 2009, di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, 11 November 2009. Kita tunggu saja realisasi pembangunan jaringan tersebut untuk mengiringi tarian perempuan Indonesia menjadi semakin rancak.
Monggo... :)

Jumat, 12 Desember 2008

INCREASING WOMEN CAPACITY IN ICT PARALEL WITH SUPPORTING WOMENOMICS AS CONTRIBUTOR TO THE NATIONAL ECONOMIC GROWTH

Paper by : Agnes Irwanti

(presented in Asean Regional Conference on Womenomic
and
The 13th ACWO General Assembly, Manila Hotel)

Introduction
Unemployment and poverty in many developing countries are multi dimensional problematical. These problem mostly influenced by lack of human and natural resources, community access to productive resources, employment opportunity, supporting of potential culture, knowledge and Technology. One of the approaching to cope with the problem is to make empowerment of the society. Society is stimulated to aware and ready to improve their quality of life by exploring and developing their inner potential and their environment, strengthening their best ability and also to provide the right protection in certain aspect to avoid exploitation and mistreatment on them.

So, the right making of empowerment is not to treat the society as an object but to involve their participation actively in development and effort of increasing quality of life of the society.

Women as part of the society certainly have important role in economic development of every nation. So the program of women empowerment become very relevant and directly tied to the effort of overcoming unemployment and poverty. Women are required to involve in the program, sounding what they want and have the strategic role in economic development which will push accountability and will accelerate economic growth of a country.

Related to the subject above, Information and Communication Technology become a must in supporting the acceleration of economic growth. Information flow and communication speed can improve efficiency which will affect to the productivity and cost efficiency.

Global market become the main factor that cannot be avoided paralel with the evolution of Information and Communication Technology which one of it is the Internet. Internet access and digital technology for women as government employee, business women or women of NGO (Non Government Organization) who live in big city is not a new thing anymore.

To communicate with other colleges either overseas or in domestic can be done fastly and easy by sending an e-mail or Chating via YM (Yahoo Messenger) or Skype. Even most of the information can be searched through internet browsing. Supremacy of women which used to do multi tasking is very benefited with this technology as a form of efficiency. Contrary, this kind of information technology is rarely known and used by most of women in remote area in Indonesia or even in big cities whether local government employee, women of NGO or business women.

All of these are a big homework for government of Indonesia. The digital divide which always as an attractive topic in ICT world become wider as we exploring to the remote area or small cities. This condition certainly affect to the economic of scale, because this connected to work efficiency, access to get the information, business opportunity and easyness of communication, etc.

Commitment of Ministry for Women Empowerment
Increasing Women Capacity in ICT is the program from Ministry for Women Empowerment as a kind of government caring regarding Gender Digital Divide in Indonesia. This program is the education of ICT for women to know, learn and to implement ICT technology among business, workplace and their daily life.

The program of Increasing Women Capacity in ICT held by Ministry for Women Empowerment is not only kind of argument/brainstorming that can not be measured their degree of achievement but also represent the real program training for the audience with making use of personal computer and internet connection for the audience respectively.

This program except having the function of increasing Women Capacity in ICT, also to manage digital divide to support goverment program regarding e-Government.
Coordinating with several Ministries and Goverment Bodies, the Ministry of Women Empowerment starting to support the provinces which are implementing the telecenter as tools for the society to learn and optimize the ICT.

Why Internet?
Internet is a global scale of network from modern communication and information technology which is very usefull in connecting human activity and interest in all of the world. Even in virtual world, this technology has many advantages for us. For instance, to communicate with friends, relations, colleges, business partners or everyone in all of Indonesia even all of the world in easy, cheap and fast.

With only have eagerness and capability to use it, we can easily search for a huge of data and information to support our work or business, getting information/national or overseas news, searching sponsor or supporting capital for the business, to get partner profile even our business competitor upto gathering cook recipes or how to handle household. Internet also can be used to extend friends network and business, even can be used to explore knowledge about every information (articles), spreadsheet, voice, photo and video in many aspect such us health, finance, management, business, etics, and all of the information about hooby, life style, mode, religion, etc.

Of course, we have to smart to use it, because not of every internet content is use full. Internet content tend tobe very free and cannot be controled or handled by anyone, so there are possibility that we might be trapped in negative material or content such us pornography, gamble, sadism, racialism and even infiltration of our data by other person (Hackers)

Moreover, with many bad programs such us virus, worm, Trojan horse, spyware, etc that can be harmed, erasing or steal our data in our computer up to the attack of garbage e-mail (spam), cheating, privacy violation by anybody through internet. Back to us, with the enough knowledge about all of the aspect about internet and also supporting with our maturity and wisdom in choosing or collect the good and bad information, we can optimize the internet for the positif matters and minimize the negative impact in order to get the advantage of internet technology safely.

By knowing internet and the advantages, hopefully the government plan of workshop training audience can use this kind of technology usefully. The other workshop material such as creating the e-mail address and personal Blog can provide benefit to the audience to have access directly to global market,globally distributed work and global knowledges.

Telecentre
The commitment of Indonesian Government in implementing e-Government Program, aligned and paralel with the e-Development program done by local authority which one of it is the development of telecentre. The development of this telecenter are the effort to increase society capability in ICT, also as an instrument where the informations are interchanged by using many kind of communication device.

Content builded by data collecting system, in this telecentre has the capability to provide the acurate information. Meaning able to fulfill the 5R criteria, which is Right information with Right quality, given at Right quantity to the Right person at the Right time.
In here, the ICT basic tools are needed to build the generic telecentre, such us:
Computer and internet access
Standard Peripheral, id est: printer, scanner, external harddisk and network (LAN)
Training room and community meeting.
Supporting device such as LCD, VCD,DVD, projector, audio tape
Supporting activity device for profesional business, 1 unit notebook, 1 unit telp/fax, camera digital.


This telecentre generic appliances combine with high dedicated organizer will create a multipurpose community telecentre (MTC). And with the expanding population of MTC in the community will stimulate the forming MTC Networking which acts as collective learning media for everybody. The networking acts as a part of more extensive network, so that the information line becomes richer and creates extensive distributed knowledge.


Through the activity of usage and extension of the telecentre, ICT can be used to develop knowledge and competency for the increase of competitive power for Small Medium Industry or Small Medium Business for community. ICT is used so that people can access knowledge sources from the internet, also they can use it for their business transactions. The benefit of ICT will always be combined with other communication tools (printed leaflet, communication board, local radio transmission and specific local cultural program). The aim is to facilitate individual or group needs so that they can develop their business which can escalate their economic scale.

The scope of activities in the telecentre comprise of:
1. The supply of technology package
Software supply, whether for business application with generic characteristic such as finance software, or certain industry with specific characteristic such as batik design planning software.
2. Training to have ability to access knowledge
People through community development training will be trained to be able to search information sources or knowledge that they need, whether from this country or from abroad.
3. Training to use ICT for business
People will be trained through ICT training, to use ICT for business needs, whether for application of supplied software, or for doing business interaction through email, e-commerce, or other internet application.
4. Training to enhance organization
Training needs to be given to support the telecentre optimalization as mentioned above. The Ministry of Women Empowerment participates to give workshop for women, through program for enhancement of women capacity in ICT.


Workshop Implementation and Output
The program of Ministry for Women Empowerment is enhancement of women capacity in ICT, conducted in 15 cities in Indonesia, through giving workshop for women with very basic material: internet introduction and its usage, how to access internet, surfing/browsing to get information, making e-mail address and making blog.
The cities mentioned above are as follows: Jambi, Banjarbaru, Lampung, Wonosobo, Banten, Kota Pekalongan, Pekalongan, Manado, Mataram, Sragen, Sidoardjo, Pontianak, Cilegon, Sukabumi, Gorontalo.

The training is participated by 50 person for every city, consist of government employees, women organization and local business women. Each participant operates one computer connected with internet so that they can operate and applied directly.

There, the participants can learn and access internet directly, make e-mail address, send letters to each other. The participants are also guided to understand how technology can facilitate them to communicate in a fast way by sending e-mail between themselves, so that they realize that they don’t have to bother with conventional letter anymore.

The workshop participants also enjoy session about how to make Blog, where they can pour out idea, give opinion, even promote their business. Until this article is written (10 November 2008), workshop has been held in 7 cities: Pekalongan District, Pekalongan City, Pontianak, Banjar Baru, Sragen, Sidoardjo and Manado.

As a speaker and lecturer along the roadshow, I have been witnessing the enthusiasm of the participants during the workshop. The availability of information through internet made the participants satisfying themselves to have the information that they wanted.

Even I recently received information from the former audience of the training origin from Sragen city which also SMEs (Small Medium Enterprise) of Organic Rice informing that her business has already received order from Japan. The other SMEs enterpreneur of batik handmade in Pekalongan city also sell her product to other cities and even abroad by using the ICT.

Here can be seen in reality that the program of Increasing Women Capacity in ICT has a capability to increase working efficiency thus increasing productivity and helping local business women go to global market. And at the end can give positif contribution to national economic growth.







REFERENCES 1. ICTWatch, http://www.ictwatch.com/2. Asosiasi Pengusaha jasa Internet Indonesia (APJII), http://www.apjii.or.id/3. Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan, http://www.menegpp.go.id/4. Asian Pacific Women’s Information Network Center (APWINC), http://www.women.or.kr/5. Empowering Women Network, Inc. (EWN), http://www.empoweringwomen.net/6. Empowering Women Magazine, http://www.empoweringwomen.com/7. Situs Perempuan, http://www.perempuan.com/.8. DetikNET, http://www.detiknet.com/9. XL, http://www.nyambungterus.com/10. Preotec Kids, http://www.protectkids.com/11. Spamhause, http://www.spamhause.org/12. Microsoft, http://www.microsoft.com/13. Google, http://www.google.com/14. Yahoo, http://www.yahoo.com/15. Wikipedia, http://www.wikipedia.org/